logo

Arti Sahabat Sejati, Cinta Suci dan Pesan Literasi

Arti Sahabat Sejati, Cinta Suci dan Pesan Literasi

Oleh: Tomi Alwi
Kelas: X MA Annur Garut

Judul: Lukisan Cahaya di Batas Kota  Galuh
Penulis: Aliya Nurlela
Penerbit: FAM Publishing
Terbit: 2014
Softcare, 505 halaman
ISBN: 978-602-7956-53-7

Novel ini menceritakan kehidupan seorang perempuan bernama Amila. Amila adalah seorang gadis yang penakut, manja dan pandai merangkai kata. Amila bertekad ingin menjadi seorang wanita muslimah yang salehah, kuat, tidak cengeng dan pemberani.

Amila tumbuh menjadi seorang wanita cantik dan disukai banyak pria di desanya. Setiap hari Amila menerima surat cinta dari mereka. Suatu ketika, Amila mendapat surat dari seorang pemuda bernama Darta. Amila menolak dengan kesantunannya. Namun, karena terlalu cinta. Cinta itu berubah menjadi malapetaka bagi Amila. Amila mendapat perlakuan buruk dari Darta. Sampai akhirnya, setelah berkali-kali mendapat penderitaan. Amila mengirim sebuah surat permohonan kepada Darta agar berhenti mengganggunya. Darta akhirnya sadar akan sifat buruknya. Ia meminta maaf kepada Amila. 


Novel ini menginspirasi sekali, apalagi ketika Amila aktif di sebuah Sanggar, yang pada akhirnya Amila mendapat perlakuan kasar dan tidak terpuji. Namun, ada sosok yang menyelamatkannya dan berani bertaruh nyawa untuknya. Dialah Zahda Amir, pria yang mampu meluluhkan hatinya.

Sejak saat itu, Amila bertekad untuk berubah menjadi muslimah yang baik. Ia aktif di rumah binaan muslimah dan memulai berhijrah, ia menginginkan istiqamah memakai hijabnya. Karena ia tak mau lagi kembali ke jalan sesat. Rintangan ketika berhijrah sungguh sulit dan membuat iman goyah. Namun, karena tekad Amila kuat. Ia tetap istiqamah dengan hijabnya.

Novel ini memberi kita sebuah pesan atau amanat, agar jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Karena belum tentu apa yang kita pikirkan itu benar adanya. Ketika itu, Amila mendapat surat dari Zahda ia membacanya. Namun, tak ada nama penerima di sana, perasaan Amila tak karuan. Ia berpikir surat itu untuk wanita lain, karena Zahda sempat dekat dengan wanita itu.

Karena hati yang rapuh tidak bisa menahan emosi dan kekesalan di hati. Amila memutuskan untuk menerima pinangan dari seseorang yang bernama Fahri dan meninggalkan Zahda. Hati Zahda remuk-redam ketika mendapati surat undangan pernikahan dari Amila. Seharusnya ia mendapat jawaban atas suratnya, namun ... undangan pernikahanlah yang diberikan Amila. Sungguh ironis.

Novel ini sangat menginspirasi sekali, novel ini seakan-akan nyata dan sangat menghujam sekali. Ketika membacanya saya dibuat masuk ke dalam alur, saya terbawa perasaan. Apalagi ketika adegan Amila diancam Darta, Amila disiksa oleh sutradara Joe, cinta muda dari pak Dika, cinta tak terbalas kepada pak Ray, cinta tak direstui dengan Rajiv. Sampai akhirnya menemukan cinta sejati dan murni pada Zahda. Namun, akibat kesalahpahaman itu, cintanya kini berlabuh di hati Fahri, walau rasa cinta masih ada untuk Zahda tapi Amila bertekad untuk menepisnya.

Cinta tak hanya untuk yang sama-sama mencintai. Cinta bisa saja hadir ketika takdir berkata: "Dia bukan cintamu!" Cinta bisa datang kapan saja, karena cinta adalah anugerah dari Allah ta'ala untuk kita jaga sebaik mungkin, dan jangan sampai cinta itu menjadi tempat berlumurnya dosa dan siksa. Tetapi menjadikan cinta itu sebuah tali cinta yang abadi sampai kelak di syurga-Nya.

Novel ini sangat menggetarkan hati, menjelaskan bagaimana arti sahabat sejati, cinta suci, dan perjalanan hidup yang sama sekali berbeda dengan ekspedisi.

Takdir memang telah tertulis dalam kitab lauh mahfuz. Tak ada yang bisa mengubahnya. Zahda tak ditakdirkan untuk Amila ataupun sebaliknya. Itulah skenario Alloh yang harus diterima dengan lapang dada serta ditaburi dengan keikhlasan dan ketawakalan pada-Nya.