logo

PAK SURYADI, Penulis Berusia 75 Tahun

PAK SURYADI, Penulis Berusia 75 Tahun

#MemoarAliya

Namanya, Suryadi. Nama pena, Bintang Rina. Beliau berdomisili di Kediri, yang sebelumnya tinggal di Bogor dan bekerja sebagai Manajer di perusahaan susu. Tahun ini, usianya tepat 75 tahun. Awal kenal dengan saya, yaitu tiga tahun lalu, sewaktu beliau masih 72 tahun. Saat itu, beliau sedang mencari-cari penerbit yang bersedia menerbitkan naskah bukunya. Akhirnya, takdir membawa beliau menemui saya dan bincang-bincang soal karya.

Ada rasa pesimis yang kuat, saat beliau mengemukakan keinginannya. Di samping kurangnya dukungan dari pihak keluarga, juga mengingat usia yang tidak muda lagi. Ia khawatir, karyanya tidak ada yang membaca. Tidak ada yang mengapresiasi. Dan sekumpulan kekhawatiran lainnya. Namun saya meyakinkan beliau, bahwa menerbitkan buku di usia berapa pun bukan halangan. Jangan khawatir tidak ada yang baca. Tugas penulis adalah menulis. Soal laku dan tidak karya tersebut, itu soal nasib yang penting penulis tidak berhenti menawarkan.


Akhirnya, beliau mantap menerbitkan buku pertamanya dengan judul “Dewi Ganesha.” Buku ini berupa kumpulan cerpen yang ditulisnya dari beberapa tahun belakangan. Setelah itu lahir buku cerpen kedua dengan judul, “Undangan di Pasir Halimun.”

Saat buku pertamanya terbit, buku tersebut sengaja saya launching-kan dengan mengundang beberapa pecinta literasi, baik dari kalangan umum maupun siswa dan mahasiswa. Beliau bisa berbicara bebas di depan peserta launching. Bisa menyampaikan ‘uneg-uneg’-nya dalam berkarya. Bisa meraup semangat menulis dari seluruh peserta yang hadir. Hingga semangat berkaryanya tumbuh kembali. Untuk itu, tak segan saya ajak berbicara di depan peserta setiap ada diskusi literasi 'kecil-kecilan'. Bahkan, buku karyanya saya resensi dan terbit di media.


Pak Suryadi, meskipun dalam keterbatasan; kondisi memakai tongkat, sudah usia senja dan usai operasi katarak, namun semangat menulisnya tetap menggebu. Beliau rutin menemui saya di kantor. Entah itu dua minggu sekali, sebulan sekali atau kalau sedang sehat, bisa datang seminggu sekali. Sungguh semangat yang luar biasa!

Seperti hari ini. Tadi siang, beliau menemui saya. Sekadar berbincang-bincang tentang menulis. Masih dengan kondisi fisik yang sama dan semangat menulis yang sama. Bahkan, dengan antusias beliau berniat menerbitkan naskah terbarunya lagi. Katanya, “supaya ada jejak, ketika saya meninggal nanti.”

Saya dukung sepenuh dukungan. Semoga Pak Suryadi diberi kelancaran dan kemudahan dalam berkarya. Semoga diberi kesehatan lahir batin. Semoga diberi kesuksesan dalam hidupnya. Aamiin.

*Cerita lebih lengkap, bisa dibaca di buku “Memoar Aliya”

#StatusJeda