logo

RACHMAYATI NILAKUSUMAH (NENG PEKING); GURU TARI SAYA YANG HEBAT.

RACHMAYATI NILAKUSUMAH (NENG PEKING); GURU TARI SAYA YANG HEBAT.

#MemoarAliya

Sengaja saya tidak menandai akun facebook beliau, maklum ‘joledar’ lama tidak bersilaturrahmi—baik di dunia maya maupun nyata. Dan, pasti beliau lupa dengan saya, karena saya pun belum mengajaknya membuka memori. Guru lupa murid, itu biasa, karena jumlah muridnya banyak hehe. Tapi kalau murid lupa guru, itu tidak biasa 😊 Untuk itu, saya tergerak menuliskan tentang beliau, sebab ada kenangan yang layak ditulis.



Nama populernya, Neng Peking. Saya sering memanggilnya, Teh Nila atau Teh Eneng. Beliau seorang penari hebat dari Tanah Pasundan, sekaligus istri dari sastrawan Sunda; Godi Suwarna. Tahun 1992, saya pernah jadi murid beliau sekaligus murid Kang Godi Suwarna. Waktu itu, seminggu tiga kali, saya dan teman-teman di sanggar teater kabupaten dilatih oleh beliau--Selain berlatih acting juga dengan Kang Godi dan sutradara lainnya--Jadwal latihan akan semakin padat, menjelang pementasan. Bahkan, kami sampai harus menginap di rumah Kang Godi.

Di sini, saya akan cerita khusus tentang Neng Peking. Awalnya, saya dan teman-teman sanggar, tidak tahu kalau Neng Peking adalah istri Kang Godi. Hingga, pernah bisik-bisik di belakang layar haha..."Kok hubungannya dekat banget sih dengan Kang Godi?” (Maafkeun Teh 😊).

Saya menganggap, Neng Peking adalah guru tari yang hebat. Bayangkan, waktu itu dalam kondisi hamil muda, tapi begitu lincah mengajar tari. Bukan hanya tarian ronggeng, tapi ditambah tarian setengah bela diri untuk para pemain pria. Saya sering meringis, melihat Teh Eneng loncat dari satu meja ke meja lain dengan gerakan yang gesit. Tubuhnya memang langsing, proporsional, ‘body goal’ istilah sekarang mah he...he. Rambutnya selalu diikat ke belakang, setengah disanggul kecil dan berkostum kaos oblong serta celana leging pendek. Cantik dan menarik sekali. Belum lagi, ditambah pengalamannya malang-melintang di dunia tari. Tentu, semakin menjadi daya tarik.

Saya patut berterimakasih pada Teh Eneng, sebab berkali-kali melakukan ‘pembelaan’ pada saya saat di ruang rias. Seperti, satu kejadian sewaktu mau pentas “Jante Arkidam” di acara festival penyanyi pop kabupaten. Waktu itu, saya yang berperan sebagai ronggeng sedang dirias para perias perempuan. Tiba-tiba Kang Godi tanya,”Dada ronggengnya perlu disumpel, nggak?” Teh Eneng langsung jawab,”Hus, tidak perlu. Ronggengnya sudah seksi kok!” Ups! 😊 (Maaf, saya tuliskan apa adanya sesuai dialog).


Pada kesempatan lain, masih di ruang rias, Kang Godi berujar, “Ini rambut penari utamanya, lebih baik diikat saja biar rapi!” Teh Eneng langsung jawab,”Eh, tidak perlu! Rambutnya sudah panjang. Bagus dibiarkan terurai!” Dan, keputusan pun ada di tangan Teh Eneng. Saya mah senyum-senyum saja, merasa dibela karena maunya saya juga sejalan dengan maunya Teh Eneng 😊 Hatur nuhun pisan, Teh Eneng he..he.

Hampir seminggu tiga kali, saya harus berangkat lebih awal ke tempat latihan yang cukup jauh. Maklum, saya sekolah di Bojonghuni--di SMANTIC—sedangkan latihan selalu di sekitar kota dan berganti-ganti gedung. Tapi entahlah, saya riang dan happy saja. Maklum, itu bidang yang saya sukai. Selain itu, proses masuk jadi anggota sanggar kabupaten cukup rumit. Melalui audisi, tidak semua orang lolos seleksi. Dan, beberapa orang yang terpilih tersebut, berasal dari berbagai daerah di kabupaten Ciamis. Bayangkan, ada yang dari Kawali. Tiap hari mereka pulang-pergi latihan dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih.

Apa pun itu, inilah kenangan. Kenangan itu akan tetap hidup dalam ingatan. Alhamdulillah, saya diberikan proses hidup yang berwarna. Indah sekali. Saya ucapkan terima kasih tak terhingga pada Teh Eneng, Kang Godi, Teh Mely (adik Kang Godi yang selalu ikut merias saya) atas kesempatan yang diberikan, atas ilmu yang ditularkan dan atas pendampingan yang luar biasa saat pentas.

*Foto diambil dari akun fb Rachmayati Nilakusumah.

#StatusJeda