logo

MASA-MASA TERPURUK DAN MASA-MASA BANGKIT

MASA-MASA TERPURUK DAN MASA-MASA BANGKIT

#MemoarAliya

Saya mencoba membongkar-bongkar foto 10 tahun lalu, siapa tahu ada foto imut dan unyu-unyu. Tapi tidak saya temukan. Saya coba membongkar-bongkar lagi, masih tidak menemukan sosok manis di balik foto. 😊 Miris! Saya menemukan beberapa foto, yang justru wajahnya saja tidak terlihat. Tertutup kerudung. Benarkah itu saya?


Ya, benar. Itu saya! Saya 10 tahun lalu, dalam kondisi masa-masa terpuruk akibat sakit bell’s palsy. Saya tidak mau melihat cermin apalagi di foto. Kalaupun terpaksa harus difoto, ya seperti itulah, akan ditutup dengan kerudung. Saya benar-benar kehilangan rasa percaya diri. Wajah tidak simetris, senyum pun apalagi. Saya sedih. Saya banyak mengurung diri di kamar untuk beberapa bulan. Saya minder bertemu orang banyak. Rasanya, tidak akan bisa tersenyum lagi, meskipun senyum dari hati.

Perlahan tapi pasti, saya mulai aktivitas lagi, meskipun masih sering menutup wajah. Hingga tahun 2012, saya bisa mengelola sebuah wadah kepenulisan. Namun, tetap saja saya belum berani tampil terbuka. Sering pakai saputangan atau masker.

Namun tahun 2013, tepatnya bulan Agustus, saat itu majalah Kartini bermaksud mengangkat profil saya. Dengan syarat, saya harus mengirimkan foto terbaru. Tentu saja, saya menolak mentah-mentah. Bagaimana mungkin?! Lebih baik, tidak! Namun atas bujukan berbagai pihak, akhirnya saya luluh dan datanglah ke studio foto untuk difoto.

Setelah itu, rasa percaya diri saya kembali tumbuh. Saya mulai cuek dengan keadaan, dengan tanggapan orang, toh ini wajah saya. Saya mulai berani tampil tanpa sehelai pun kain di wajah. Saya mulai berani difoto, meskipun awal-awal selalu foto menyamping. Hanya bagian wajah yang tidak sakit yang terlihat. Tapi lama-lama, saya benar-benar cuek. Saya berani difoto menghadap ke depan dalam kondisi wajah yang belum sembuh (seperti foto tahun 2015). Saya enjoy, happy dan bisa tersenyum dari hati. Justru berkat sakit bells’palsy, melahirkan inspirasi dalam berkarya. Terbitlah novel “Senyum Gadis Bell’s palsy.”

Akhirnya, saya merasa tidak percaya! Ketika bulan November 2018 lalu, saya berani difoto dalam kondisi dirias, padahal wajah saya masih sakit bell’s palsy. Masih 85% kesembuhan. Itu hal yang mustahil dalam kamus saya. Tapi lagi-lagi, itu nyata. Rasa minder saya seolah hilang. Saya benar-benar enjoy. Tidak peduli lagi tanggapan orang. Mau dibilang berwajah aneh, silakan! I'm happy!

#StatusJeda