logo

Selamat Jalan Kawan, Agus Abdullah Afif

Selamat Jalan Kawan, Agus Abdullah Afif

Oleh: Aliya Nurlela

Masa kecil dan masa remaja yang indah, telah kita habiskan bersama di kampung halaman. Kamu (Agus), sahabat sekaligus adikmu (Ira) dan aku, berasal dari kampung yang sama, Cilimus. Berasal dari sekolah yang sama, SDN Indragiri 2. Kamu berada beberapa tingkatan kelas di atasku. Kamu tampil sebagai siswa yang disukai guru-guru, karena wajah imutmu dengan lesung pipit di pipi. Tak hanya itu, karena kepandaianmu menari jaipongan serta bidang seni lainnya. Tampan, modis dan memiliki talenta di bidang seni. Kamu tumbuh jadi seorang idola di sekolah.

Meskipun, setelah SMP dan SMA kamu pindah domisili dan menempuh pendidikan di Kuningan, tapi tak pernah lupa setiap liburan selalu pulang kampung. Tinggal beberapa minggu di kampung, bersama nenek, kakek, paman dan bibimu yang masih berada di Cilimus.

Saat liburan itu, selalu kita manfaatkan untuk beraktivitas di himpunan pelajar kampung. Semua pelajar, saat itu cukup sibuk. Sebab, tiap menjelang ajaran baru, selalu ada acara perpisahan yang menampilkan berbagai talenta para anggotanya. Tak heran, kami pun ikut sibuk latihan nari, nyanyi, drama dan tak lupa kamu mengajariku main gitar. Kamulah guru pertamaku bermain gitar!

Tidak hanya di bidang seni, para pelajar juga diajarkan berkebun, melakukan reboisasi dan mendaki gunung. Tentu saja, semua kegiatan itu menyenangkan. Rasanya, kita selalu bahagia dan ceria selalu.

Kita sering menghabiskan waktu bersama adikmu di sawah Peundeuy. Di mana, sawah milik orangtuaku dan milik kakekmu bersebelahan. Apa saja kita lakukan; kadang memanjat pohon petai cina, makan tebu, memetik sayuran, mengambil pisang, atau hanya sekadar nyanyi-nyanyi di atas batu. Terus-terang tak ada duka di antara kita. Selalu ceria penuh tawa. Apalagi kamu seorang yang humoris.

Kita pun pernah berjalan-jalan ke sungai. Bermain air, menangkap udang dan ikan, lalu duduk-duduk di atas batu sungai sambil bercerita.

Aktivitas berkesenian dan bertualang bersama, kita jalani selama tiga tahunan. Saat itu, aku sudah MTs dan kamu sudah SMA. Penampilanmu yang modis sejak SD, ramah dan supel selalu menjadi daya tarik bagi setiap orang yang mengenalmu. Kamu selalu rela menjadi pelatih kesenian para pelajar dan selalu datang dengan menebar senyum.

Ah, terlalu banyak aku bercerita. Terlalu banyak kenangan yang tidak cukup untuk kuceritakan. Kamu adalah teman dan sahabat baikku. Biarkan saja, orang mau mendefinisikan hubungan kita seperti apa. Toh kenangan itu telah berlalu sekian puluh tahun, meskipun para saksi sejarahnya masih ada.

Perpisahan denganmu, saat kamu mengambil gitar yang  dititipkan padaku. Setelah itu, hingga 28 tahun kemudian, kita tidak pernah berjumpa lagi. Aku hanya mendengar sedikit kabarmu dari adikmu. Hanya itu!

Hingga kabar duka yang kuterima. Engkau telah dipanggil olehNya. Aku hanya bisa menekuk sedih, meneteskan air mata dan mendoakan kebaikan untukmu.

Selamat jalan kawanku yang baik. Tidak ada yang perlu kumaafkan darimu karena kamu tidak memiliki kesalahan padamu. Semoga tenang di sisiNya. Aamiin.

#StatusJeda