logo

Sungai Handiwung, Sungai Yang Menyimpan Cerita

Sungai Handiwung, Sungai Yang Menyimpan Cerita

Oleh: Aliya Nurlela

Sungai Handiwung menjadi pembatas kampung Cilimus dan Kampung Legok, meskipun masih berada di wilayah desa yang sama yaitu Desa Indragiri.

Pesawahan yang berbentuk terasering, batu-batu sungai dengan ukuran besar, deretan tanaman ilalang liar, seakan menambah suasana asri. Masa kanak-kanak dan remaja saya, terbiasa lompat dari satu batu ke batu lainnya. Lalu, berlagak penyanyi yang sedang menggelar konser. Nyanyi rock dengan suara melengking, seakan menantang arus sungai 😊


Banyak cerita tertoreh di sungai Handiwung. Bagaimana tidak, sungai ini letaknya di bawah rumah orangtua saya. Jadi, bagi saya, sungai Handiwung adalah tempat bermain sehari-hari. 

Di masa kanak-kanak, menjadi tempat bermain bersama kakak dan teman, berenang bersama, ngambil kepiting, udang, ikan kecil, bahkan menjadi tempat mandi setiap ada pelangi di ujung langit. Berharap bisa bertemu bidadari kahyangan dan diajak naik ke negeri kahyangan. Ah, untung saja, tidak ada Joko Tingkir yang mencuri baju 😂

Saat remaja, banyak cerita 'melankolis' di sini. Dari mulai: meneteskan air mata akibat patah hati (hiks), menghanyutkan surat yang dianggap membawa luka, termenung, melamun, hingga menulis di atas batu sungai. Ah, kenangan itu!


Satu hal yang membuat saya kapok datang sore-sore ke tempat itu, pernah nemui jejak jari kaki hanya tiga jari. Waktu itu, saya berdua dengan adik. Rasa penasaran mendorong untuk mendekat, meneliti. Dan, begitu tahu, jejak-jejak kaki itu hanya tiga jari dengan satu jari yang runcing, tanpa dikomando saya dan adik lari terbirit-birit. Duh, jejak kaki siapa itu ya? Aih, jadi merinding 😷

Yang pasti, tidak mengurangi keindahan area sungai Handiwung. Apalagi, saat padi di sekelilingnya sedang menghijau. Duh, betapa tenangnya. Tempat yang cocok untuk ngabuburit. Tempat yang cocok untuk botram. Seolah saya pun menjelma jadi perempuan desa dengan karembong yang membelit kepala. Lalu, 'ngelek boboko' dan 'nyuhun nyiru', yang berisi: nasi liwet, ikan asin bakar, sambal telenjeng, leunca, petai dan lalapan. Akhirnya, makan bersama dengan seorang pemuda desa yang sedang duduk di atas kerbaunya sambil niup seruling. Haha...cerita itu hanya ada dalam novel! 😂 

Intinya, Handiwung memberikan banyak inspirasi dalam tulisan-tulisan saya dan sudah saya tuliskan dalam novel "Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh".

*Foto: kiriman Adik Diani Nurdianti. Foto sungai Handiwung saat airnya sedang deras. 

#StatusJeda
#KampungHalaman
#CilimusIndragiri
#Ciamis