logo

Jasa Keluarga Besar

Jasa Keluarga Besar

Oleh: Aliya Nurlela

Saya patut berbangga dan bersyukur memiliki keluarga besar yang kompak dalam perlakuan dan perhatian. Selama saya sakit di rumah sakit, mereka bahu-membahu merawat saya. Tidak ada sedikit pun keluhan yang tetucap dari mulut mereka.
Awalnya, saya dinyatakan tenaga medis yang memeriksa ibu saya, jika HB saya hanya 5,5 dan diharuskan segera dirawat di rumah sakit. Saya sempat kebingungan, bagaimana caranya? Sementara saya sedang mudik. Namun untuk pulang ke Jawa Timur dalam kondisi sakit, juga tidak.mungkin. Saya gelisah semalaman, apalagi suami sedang pulang dulu ke Jawa Timur.

Paginya, usai salat Subuh, saya berbicara dari hati ke hati dengan Mamah (Ibu). Hingga saya diizinkan untuk istirahat dulu di kampung dan bersiap dirawat. Atas izin tersebut, saya pun memutuskan tinggal di rumah keluarga yang ada di jantung kampung Cilimus. Kebetulan rumah tersebut, kosong dan dekat dengan toko serta masjid.

Saya memutuskan untuk dirawat tanggal 20 Juni, 10 hari kemudian. Tapi orangtua dan kakak-kakak sudah khawatir dengan kondisi saya. Akhirnya, atas berbagai desakan kakak-kakak, saya pun memutuskan berangkat untuk dirawat tanggal 11 Juni 2019.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit yang memakan waktu dua jam, saya merasakan tubuh semakin lemas. Kuku-kuku saya sangat rapuh dan bisa dikelupas. Lidah berwarna putih/pucat, napas sesak. Sementara, semua rumah sakit, penuh dengan pasien. Dua rumah sakit yang didatangi, sudah full dan tidak terima pasien baru. Akhirnya, kedua kakak saya, membawa ke rumah sakit Al-Arif.

Saya terkapar lemas. Hb turun sangat rendah, hanya 4,4. Saya langsung ditangani di ruang UGD dan tak lama kemudian masuk kamar perawatan.

Ternyata, untuk transfusi darah tidak tersedia stok darah di PMI. Terpaksa saudara dan tetangga dikerahkan. Namun tak satu pun yang memenuhi syarat kesehatan menurut PMI, hingga selama dua hari, transfusi darah tersendat. Barulah hari berikutnya, setelah diumumkan oleh saudara lewat media sosial, para pendonor dari berbagai lapisan berdatangan.


Selama saya dirawat, perhatian kakak-kakak, adik dan orangtua sangat luar biasa. Mereka berbagi tugas, bergantian menunggui. Rela begadang semalaman demi lancarnya transfusi darah yang saya jalani. Rela naik-turun lantai 1 sd 3 untuk menghubungi perawat yang bertugas. Rela mengantar jemput para pendonor. Rela mengantar jemput saya. Rela merogoh sakunya sendiri untuk memenuhi kebutuhan saya.

Bahkan, kakak pertama, rela mengantarkan makanan untuk para penunggu pasien, pagi-siang dan sore. Serta membayar lunas seluruh biaya perawatan di rumah sakit. Mereka bergerak sendiri-sendiri. Tanpa itung-itungan. Tanpa keluhan. Luar biasa!

Mamah (Ibu) yang bertugas menemani anak saya yang laki-laki, setiap hari telepon, mengecek perkembangan kesehatan saya. Saya pun sempat terharu, ketika berangkat, beliau membekali saya uang tunai. Seakan-akan saya seorang anak yang masih berada dalam asuhannya.

Dan, putri saya, dialah yang sangat berjasa menemani saya setiap hari di rumah sakit. Meskipun sempat demam dan flu, serta harus tidur di bawah, ia tetap setia merawat dan menunggui.

Terima kasih untuk keluarga besar. Jasa kalian akan selalu kukenang!

*)Aliya Nurlela, seorang novelis dari Ciamis, Jawa Barat.