logo

Impian

Impian

Oleh: Aliya Nurlela

Saya tidak pernah membatasi impian seorang anak, bahkan saya selalu mendorong agar ia menggaungkan impiannya setinggi mungkin. Karena semua pencapaian berawal dari impian yang digumamkan, sehingga membuat kaki melangkah untuk mewujudkan dan hati yang menasbihkan doa-doa. Atas izinNya, impian itu terwujud.

Dulu, saya punya impian ingin meja saya dipenuhi dengan naskah-naskah buku milik para penulis. Dan, impian itu terwujud. Saya cukup kewalahan menerima beragam naskah, meskipun naskah tersebut tidak numpuk di meja tapi berjubel di email!

Negeri impian Najla adalah Korea. Dia suka sekali dengan tempat-tempat di Korea, budaya, kuliner, musik, hingga fashion. Dia nulis novel dengan tokoh-tokoh bernama Korea dan berlatar negeri Ginseng itu. Saya biarkan, bahkan saya dukung Najla untuk belajar bahasa Korea. Saya bantu merenda impiannya, bahwa suatu hari ia bisa pergi ke Korea. Entah mendapat fasilitas dari menulis, melanjutkan studi, bisnis atau sekadar jalan-jalan wisata.

Sementara negeri impian Jun adalah Jepang. Jun sering membahas tentang Jepang dengan penuh semangat. Dia belajar bahasa Jepang dan menyukai komik Manga. Saya biarkan Jun menggaungkan impiannya dan saya selalu memotivasinya, bahwa suatu hari nanti ia bisa mengunjungi negeri impiannya itu.

Kenapa negeri impiannya bukan Makkah-Madinah? Itu negeri tujuan, bukan sekadar impian!

Lalu, negeri impian saya? Ya, Spanyol lah ๐Ÿ˜‚
Para mi debilidad la รบnica eres tu ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


#StatusJeda
#MemoarAliya