logo

Potensi Berbeda

Potensi Berbeda

Oleh: Aliya Nurlela

Meskipun saya seorang penulis dan dikenal sebagian orang sebagai motivator kepenulisan, tapi saya tidak pernah memaksakan anak-anak saya untuk jadi penulis. Walau dalam perjalanan itu, Najla anak perempuan saya, akhirnya menjadi seorang penulis juga. Semua berkat hobi dan keuletannya. Berbeda dengan Jun, yang lebih cenderung membuat gambar-gambar dan cerita bentuk komik. Hingga tak heran, kesukaannya itu membawanya bisa menguasai bahasa Jepang lewat belajar melalui internet. Dan, ia  berani melamar kerja jadi editor & translator komik Manga Jepang, hingga diterima.

Saya hanya menyarankan pada anak-anak untuk rajin membaca, serta tidak membatasi jenis bacaan. Istilahnya, sobekan koran bekas bungkus gorengan saja, kalau bisa dibaca dulu sebelum dibuang. Sebab, manfaat membaca sangat banyak. Salah satunya, wawasan jadi terbuka lebar. Bisa melihat dunia dari ruang kecil sekalipun. Dan, orang yang suka membaca, cenderung suka menulis. Sebab termotivasi untuk menghasilkan tulisan seperti buku yang pernah yang dibaca. Bahkan kalau bisa, menghasilkan tulisan yang lebih baik dari itu.

Saya tidak pilih kasih pada anak saya dan tidak menganggap salah satunya memiliki potensi lebih dari yang lain. Itu, tidak saya lakukan karena keduanya memiliki potensi, hanya dalam bidang yang berbeda. Tidak ada anak bodoh! Semua anak memiliki kepandaian dalam bidangnya. Ukuran pintar bagi saya, bukan diukur dari piala dan piagam yang berderet.

Najla punya sederet penghargaan, sementara Jun hanya memiliki dua penghargaan, yaitu penghargaan dari Australi di bidang IT dan sebagai salah satu lulusan terbaik yang langsung diterima kerja oleh perusahaan computer. Saya anggap penghargaan itu bonus dari keuletan usaha mereka. Bukan untuk di banding-bandingkan! 

#StatusJeda