logo

Insiden Sekardus Kue

Insiden Sekardus Kue

Oleh: Aliya Nurlela
(KISAH NYATA AWAL PERTEMUAN DENGAN PAPA-NYA JUN)

*Bagi Anda yang penasaran!

Sebagai mahasiswa baru semester tiga dan panitia baru, tentu ada rasa kepatuhan yang tinggi pada kakak-kakak angkatan. Seperti hari itu, di acara seminar, saya didaulat jadi seksi konsumsi. Tugas utamanya memesan snack, menjaganya serta membagikan ke peserta seminar saat acara berlangsung. Kebetulan, koordinator seksi konsumsinya, tegas dan setengah galak. Dia muslimah semester 7 jurusan Administrasi Negara. 

Nah, usai acara seminar, ternyata snacknya sisa 100 kotak. Lalu, dijadikanlah dalam satu kardus. "Kue-kue ini, titip dulu ya di rumahmu. Tolong dijaga!" ujar Si Koordinator. Saya mengangguk. Alhamdulillah, saya tidak kost, tapi menyewa rumah bersama 4 mahasiswi lain dari berbagai kota.

Malam hari, saya melihat banyak semut mengerubungi kardus kue. Saya pun panik dan langsung memanggil para ikhwan yang jadi panitia seminar. Saya suruh mereka untuk mengantarkannya ke rumah Si Koordinator atau ke masjid kampus. Eh, dasar nasib, para ikhwan itu salah paham. Dikira, suruh dibawa ke kontrakan mereka dan dimakan ramai-ramai. Ceritanya, kue itu ludes tak bersisa! Gawat, gawat!

Paginya, Si Koordinator, marah-marah pada saya. "Itu kue milik ummat. Gara-gara kamu, harta ummat termakan oleh mereka!" Matanya berputar-putar. Jengkel sekali.
"Maaf Mbak, ada kesalah pahaman," ujar saya setengah ketakutan. 

"Kamu harus mempertanggungjawabkan. Kamu harus menghadap sendiri ke ketua lembaganya!"

Hah?!! Menghadap sendiri ke ketua lembaga?! Ketua yang dingin dan sok berwibawa itu?! Tidak, tidak!

"Bagaimana kalau diwakili Mbak saja," ucap saya merajuk. Mata Si Koordinator, langsung membeliak. "Kamu yang berbuat. Ya kamu yang harus bertanggungjawab!"

Ya, sudah, saya pun terima meskipun ketakutan. Sungguh, rasanya mau berhadapan dengan monster gurun! Saya membayangkan, pasti Si Ketua Lembaga lebih galak dari Si Koordinator. Tapi apa daya, nasi sudah jadi bubur. Kue sudah masuk di perut. Saya wajib bertanggungjawab! Oke, siapa takut?! Pikir saya, padahal hati ciut.

Malam itu, saya menyiapkan uang Rp25.000 dengan tujuan akan dipakai mengganti kue. Beuh, padahal uang segitu di tahun segitu, gede banget. Cukup untuk bekal makan di kontrakan selama seminggu. Tapi demi tanggungjawab, sekaligus membersihkan nama baik seksi konsumsi, tidak apalah. Uang bisa dicari. Apalah artinya uang tapi batin menderita ha...ha. saya pun sibuk berfilosofi, sekadar menghibur diri. Lalu, dengan memejamkan mata, uang itu saya masukan ke saku gamis. Saya pun tersenyum kecut dan miris. Lalu, saya ajak salah satu teman kuliah untuk menemani.

Usai salat isya, saya lihat dia ada di masjid kampus. Saya pun, minta bantuan seorang ikhwan untuk memanggilkan. Saya dan teman, nunggu di emper masjid. Begitu bertemu, tanpa senyum, sapaan atau basa-basi, saya langsung nyerocos membahas duduk perkaranya sambil menyodorkan uang (tapi ditolaknya). Padahal, kenalan saja belum. Ya, itu efek ketakutan kali. 😁

Dia santai saja, tidak ada kaget-kagetnya. Malah asyik mengelus-elus dagunya yang berjambang sedikit. "Sudah selesai?" tanyanya. Wadaw, jadi malu. Nyerocos tanpa henti saking takut dimarahi. 😂 "Sudah," jawab saya pelan. 

"Begini, kue itu tidak perlu diganti. Itu kan uang pribadi, pakailah untuk kepentingan pribadi. Kue itu milik ummat dan kembali kepada ummat. Bagian dari ummat itu, ya para panitia. Jadi, para ikhwan tidak salah. Mereka makan hak mereka!" ujarnya dengan suara lembut dan menenangkan.

Hah?! Saya pun melongo. 

"Udah jangan nangis!" ujarnya lagi disertai senyum. Saya cepat-cepat menyembunyikan wajah. Siapa yang nangis? Ih, cengeng amat!

"Jadi, tidak dimarahi ya?" Saya bertanya bego. Eh, malah menantang dimarahi. 😆 Soalnya, jauh dari ekspektasi sih. Sudah terlanjur menyiapkan mental untuk dimarahi, ealah "jebule" tersenyum dan bicara ramah sekali. 🤭🤭

"Sudah, pulanglah dan tidur yang nyenyak. Jangan pikirkan soal kue lagi!" ujarnya. Saya pun bersorak dalam hati. Lalu, cepat-cepat pamitan. Ingin segera melonjak girang. Yes, yes, yes!

"Gimana hasilnya setelah bertemu ketua lembaga? Apa kamu dimarahi?" tanya Si Koordinator. 

"Tidak. Malah dia tersenyum dan bicara ramah sekali. Kuenya juga diikhlaskan," jawab saya santai sambil kipas-kipas pakai ujung jilbab. Olala, dunia ini indah. 😁

"Hah?! Serius, kamu nggak dimarahi?" 

Saya menggeleng santai sambil melihat awan biru yang berarak di langit. 🙈

"Sudah kuduga, sudah kuduga!" Si Koordinator terlihat gemas dan jengkel. Ganti, saya yang tersenyum cerah ceria. Secerah hati dan jiwaku. Halah! Opo sih? 😆😂😂

Foto: harap di zoom 😂😂

#StatusJeda