logo

Ta'aruf

Ta'aruf

(CUPLIKAN KISAH NYATA PERTEMUAN AWAL DENGAN PAPA-NYA NAJLA/JUN)
Oleh: Aliya Nurlela

*Bagi Anda yang penasaran

"Apa kamu sudah siap diajak ta'aruf oleh ikhwan? Kebetulan ada ikhwan yang nanyain kamu!" ujar kakak perempuan saya yang sama-sama kuliah di kampus yang sama. Tapi kakak saya ini, sejak semester 5 sudah menikah. 

"Siapa ikhwan yang nanyain?" Wajah saya seketika tegang. Khawatir yang nanyain saya itu di luar dugaan. Dalam arti, orang yang tidak saya sukai. Sementara, katanya tidak boleh menolak orang yang pertamakali datang, jika secara agamanya bagus. 

"Orang yang kamu sebut bersikap dingin tapi terlihat sabar."

Hah?! Seketika saya terpekik. Melongo. "Si ketua Lembaga itu?!"

Kakak mengangguk.  Wajah saya pun pucat sempurna. Dia ngajak ta'aruf? Lalu, setelah ta'aruf akan dikhitbah. Lalu, setelah itu ngajak nikah? Ow, benarkah pria gondrong itu? Rasanya, enggak mungkin deh. Pasti kakak salah. Kapan saya berkenalan dengannya? Kalaupun kenal, gara-gara insiden sekardus kue. Tidak ada perkenalan secara pribadi. Jadi, bukan kenal dalam kondisi wajah manis tapi kenal dalam kondisi wajah saya yang suntuk akibat takut dimarahi.

"Sejak memimpin rapat pertama untuk para panitia seminar itu, dia mencari tahu, siapa katanya akhwat yang berjilbab ungu yang duduk paling depan," ujar kakak. Saya pun makin melongo. Ow, ternyata diam-diam dia memperhatikan toh? 🤭🤭 Padahal kan ada puluhan panitia seminar, kok pikirannya tertuju ke saya ya? Widiw, antara senang dan bangga 😂😂

"Setelah dia tahu, dia langsung mendatangi suamiku dan mengutarakan maksudnya," ujar kakak lagi. Wah?! Lagi-lagi saya melongo. Secepat itu kah? Emang sih, saya sudah hijrah. Sudah berjilbab syar'i. Sudah tidak pacaran sejak bergabung di komunitas dakwah. 🙈🙈 Jadi, wajar kalau dia minta bantuan kakak untuk menyampaikan. Hemmm...tapi sebentar, dia kan masih semester 7 dan saya semester 3, sebelia itu mau nikah? Ih, enggak deh!

"Sebentar, kalaupun aku terima, harus siap menungguku minimal 2 tahun lagi!" ujarku pada kakak. 

"Iya, dia juga katanya ingin lulus kuliah dulu dan kerja dulu."

Hemm...gitu dong! Belagu amat, kuliah aja belum lulus udah nanyain anak orang ha...ha. Tapi, entah kenapa kok mulai timbul getar-getar lain ya 😂😂 Hadeuh...baru aja nongol di kampus, udah ada yang berniat meminang. 🤭🤭

"Beri aku waktu untuk menjawabnya!" ucap saya pada kakak dan kakak pun menyanggupi.
Terus-terang, ada sederet nama ikhwan yang dalam minggu itu berniat mengajakku ta'aruf. Sebut saja namanya, Akhi Michael, Akhi Roberto, Akhi Albert,  dan Akhi Fidel. (Nama sengaja disamarkan pakai nama orang barat). Berarti ada 5 orang ikhwan, termasuk Si Ketua Lembaga itu yang sedang nunggu jawaban. Wih, mumet nih kepala. Pilih yang mana ya? Semuanya, memiliki kelebihan dan kekurangan. 🙈🙈

*Ya Tuhan, semoga dia tidak membaca tulisan ini. Terutama pada bagian nama-nama ikhwan. Dan, kalaupun dia terlanjur membacanya, tolong lembutkan hatinya ya Tuhan...aamiin. 🙈🙈

Ketika mudik ke kampung halaman, saya utarakan kebimbangan saya pada kakak perempuan nomor dua, sekaligus minta bantuan untuk memilih. Saya sebutkan 5 kandidatnya, beserta kelebihan dan kekurangan. 😂 Hingga, setelah dialog dengan kakak, tersisalah dua kandidat. 😂😂

Kandidat pertama, Akhi Michael. Dia lumayan tampan, mirip salah satu pemain sepakbola Juventus, sudah lulus kuliah dari fakultas Ekonomi dan sedang merintis usaha. Kandidat kedua, Si Ketua Lembaga. Dia mahasiswa semester 7 jurusan Hubungan Internasional, berjiwa pemimpin, bertubuh tinggi, berkacamata,  berambut gondrong (tipe saya bangeeeet 😂) dan  lumayan ganteng sih. 🙈🙈 Sst...jangan keras-keras, karena saya tidak pernah memuji dia selama ini. 😂😂

"Terus kamu pilih yang mana?" tanya kakak tidak sabar. 

"Kalau bicara masa depan dan kedewasaan usia, aku pilih Akhi Michael. Tapi, kalau bicara soal hati dan rasa, aku pilih Si Ketua Lembaga!" 

"Iya, lalu kamu pilih yang mana?!" tanya kakak makin tidak sabar. 

"Aku binguuuuuuung....!" Saya pun menutup mata dengan dua telapak tangan. 🙈🙈🤭

Wih, kebingungan saya memuncak. Haruskah, menikah dengan seorang lelaki dewasa tapi perasaan padanya hanya sedikit? Ataukah harus menikah dengan laki-laki yang masih kuliah tapi cocok di hati? Yang secara perasaan saya tertuju padanya? Aduh Mak, dilema Ekeu. 🙈😂

"Sudah sana, salat istikharah dulu!" ujar kakak. 

Saya pun segera bergegas salat istikharah, setelah itu berdoa sebisa yang saya mampu. Saya lakukan tiga hari berturut-turut. Dan, selama tiga hari itu, tiap malam saya bermimpi duduk bersebelahan dengan Si Ketua Lembaga itu! 🙈🙈

Akhirnya, saya pun nyerah dan mengambil keputusan, "Andalah pemenangnya!" ucap saya menceracau sendiri. 😂😂

(Cerita ini sengaja saya share atas desakan para pembaca karya-karya saya yang merasa penasaran).

Foto: "Berdua"

#StatusJeda